Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta

Pendidikan Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta

Pendidikan Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta

Pendidikan Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta

Pendidikan Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta

Pendidikan Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Jumat, 13 Mei 2016

IJAZAHI SANAD HADITS, MUFTI LIBANON KUNJUNGI PONPES ASSHIDDIQIYAH

Asshiddiqiyah

AIC(JKT)
Mufti Lebanon,Syekh Amin Kurdi  berkunjung ke Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta, Kamis 12 Mei 2016. Beliau disambut langsung oleh Mudzir  ‘Aam Ponpos Asshiddiqiyah, KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ. Dalam kunjungannya, beliau mengijazahkan sanad hadits At-Tirmidzi yang dirangkum dalam kitab Syamailul Muhammadiyyah.
Pengasuh Ponpes Asshiddiqiyah Jakarta, KH. Ahmad Mahrus Iskandar, Bcs, bersama 190 santrinya hadir dalam pengijazahan tersebut. Mereka sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut. Sugeng Riyadi, salah satu santri asal Bogor, merasa bersyukur bisa bertatap langsung dengan ulama Libanon tersebut, ia rela menempuh jarak yang cukup jauh demi untuk bertemu dengan Syekh Amin. “Saya bersyukur bisa belajar dan bertatap muka langsung dengan beliau. Ini adalah kesempatan yang sangat luar biasa”. Ujur pria kelahiran Lampung tersebut.
Selama 2 hari beliau membacakan kitab Syamailul Muhammadiyyah yang dialih-bahasakan oleh dua penerjemah dari ponpes Asshiddiqiyah Jakarta, Ust. Musa Wardi dan Ust. Abdurrahman Malik.  Kitab tersebut merupakan kumpulan hadits tentang kepribadian Nabi Muhammad Saw. Beliau adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, nabi akhir zaman, manusia terbesar yang pernah dilahirkan oleh sejarah.
Hadits-hadits tersebut mengajak umat Islam menyelami sosok, perilaku dan kebiasaan sehari-hari Rasulullah. Termasuk bagaimana Rasulullah berpakaian, bersisir, bersarung, bersorban, bercincin hingga menanggalkan kedua sandalnya. Tidak hanya itu, minuman dan makanan favorit hingga minyak wangi kesukaan beliau juga turut dipaparkan.

Dalam kajiannya di Gedung Pendopo Lantai 2 Ponpes Asshiddiqiyah Jakarta, Syekh Amin menjelaskan bahwa Nabi SAW adalah idola sepanjang masa, teladan sepanjang hidup manusia, panutan terbaik, dan juga tokoh legendaris yang pernah ada di permukaan bumi. “Keteladannya tidak hanya tampak dalam kancah dakwah, muamalah, ibadah, iqtishaadiyah (ekonomi), siyaasah (politik), namun di semua lembaran kehidupan termasuk tata bicara, tawa dan canda beliau”. Tutur ulama asal Libanon itu.   Dari kajian tersebut, para santri banyak mendapatkan hal baru yang jarang tersingkap dari kehidupan Rasulullah Saw. (Rumadie)
Asshiddiqiyah


Asshiddiqiyah


Asshiddiqiyah

Asshiddiqiyah


Kamis, 12 Mei 2016

Pelantikan Pramuka Pondok Pesantren Asshiddiqiyah

Asshiddiqiyah

                

Pramuka Penegak dan Penggalang pondok pesantren Asshiddiqiyah Jakarta resmi dilantik pada hari sabtu (7/05/16) di gunung Pulosari Pandeglang, Banten. 

Kegiatan ini diisi dengan perkemahan yang diikuti oleh 24 peserta, terdiri dari 15 anggota pramuka dan 9 kakak pembimbing. Ka Rezky Fitradi, selaku Pembina pramuka Pondok Pesantren Asshiddiqiyah mengatakan bahwa kegiatan pramuka merupakan sarana untuk membuktikan sekaligus menerapkan teori-teori yang telah kita pelajari dalam kelas, terutama dalam aspek pengembangan karakter atau ahklak mulia santri.

Para peserta tiba di kaki Gunung Pulosari pada jum’at siang (6/05) dilanjutkan dengan pendirian tenda oleh masing-masing regu. Mereka dengan cekatan melaksanakan tugasnya masing-masing sehingga dalam waktu singkat tenda telah berdiri kokoh di tempat tersebut.

Selanjutnya, para peserta melaksanakan uji SKU dan wawancara psikologi pedesaan. banyak informasi yang mereka dapatkan ketika melakukan kegiatan wawancara tersebut. Maria Qibtiya, salah satu peserta pelantikan mengaku memperoleh informasi yang sangat menarik. “Beberapa minggu lalu ada seorang pendaki yang meninggal tersambar petir karena ketika hujan turun si korban sedang mainan hp” tutur santriwati yang duduk di kelas X Madrasah Aliyah tersebut.

AsshiddiqiyahPeserta lain menceritakan bahwa seorang pendaki pernah tersesat di gunung tersebut. Dan bertemu seorang kakek yang tak dikenal. Kakek tersebut meminta agar ayah korban menyembelih seekor kambing di puncak gunung Pulosari. Setelah melaksanakan wasiat dari kakek tersebut, korban dapat kembali dengan selamat.

Pada awalnya, gunung dengan ketinggian 1346 Mdpl tersebut tidak terorganisir. Namun setelah banyaknya peminat yang ingin mengunjungi tempat tersebut, maka pemerintah daerah pada tahun 2003 meresmikan Gunung Pulosari sebagai salah satu wisata alam di Pandeglang, Banten.

Kesokan harinya, seluruh peserta diwajibkan mengikuti hiking  ke tiga destinasi yang menempuh jarak 3 km dengan jalan terjal dan berbatu. Destinasi tersebut adalah Air Terjun Putri, Kawah dan Puncak Gunung Pulosari. Kekuatan fisik mereka diuji dalam kegiatan tersebut. Capek, lelah, lesu serta dahaga menjadi teman perjalanan mereka.  Meski demikian, semangat mereka terus membara. Vica Vikriah, salah satu peserta hiking mengaku senang dengan kegiatan tersebut “Capek sih tapi seneng banget bisa ikutan kegiatan ini” ujar gadis berkulit putih tersebut kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Setelah menempuh perjalanan selama 3 jam, mereka tiba di Kawah Gunung Pulosari. Salah satu destinasi dengan batuan berasap yang diselimuti aroma belerang. Sebagian dari mereka mengakhiri petualangannya sampai di situ. sedangkan yang lain masih tetap bersemangat melanjutkan perjalananya hingga ke titik tertinggi Pulosari.

AsshiddiqiyahPerjalanan dari kawah ke puncak jauh lebih menantang. Jurang terjal dan bebatuan setiap saat mengancam siapa saja yang melewatinya. Namun sesulit apapun perjalanannya, anak-anak pramuka selalu dapat mengatasinya. Mereka berhasil mencapai puncak dengan selamat. Alizia, satu-satunya peserta wanita yang berhasil menaklukkan Pulosari merasa bangga dengan jerih payahnya. “Akhirnya saya berhasil mencapai puncak tertinggi Pulosari” ujar santriwati asal Bekasi itu.

Sementara itu, pelantikan dilaksanakan tepat di bawah Air Terjun Putri. Sebelum acara dimulai, para anggota pramuka mendapat hukuman berupa push up di bawah genangan air terjun sebanyak 35 kali. Hukuman tersebut diberikan karena mereka sengaja menyiram kakak pembina, Ka Rezky Fitradi. Selanjutnya prosesi dilaksanakan dengan penyematan tanda penggalang dan penegak di pundak peserta. Agenda ditutup dengan foto bersama sebagai kenang-kenangan dimasa datang. (Rumadie)

Asshiddiqiyah





Asshiddiqiyah



Asshiddiqiyah



Asshiddiqiyah



Asshiddiqiyah


Asshiddiqiyah


Asshiddiqiyah




Asshiddiqiyah

         




 

Selasa, 10 Mei 2016

Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta Menangkan Lomba Pidato

Asshiddiqiyah
Dari kiri; Tuhfatul Millah,(Juara 1 pidato Bahasan Inggris), Mr. Ridwan Syafii (Pembimbing), Deni Marwanto (Juara 2 pidato bahasa Indonesia)

AIC(JKT)
            Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta meraih prestasi terbaik dalam Lomba Pidato bahasa Inggris yang digelar oleh Panitia Gebyar VIII Pondok Pesantren Jam’iyyah Islamiyah Tangerang selatan pada kamis 05 Mei 2016.
Dua santri yakni Tuhfatul Millah (kelas X MA) meraih juara 1 lomba pidato (speech) bahasa Inggris dan Deni Marwanto (kelas IX SMP) meraih juara 2 Lomba Pidato bahasa Indonesia. Perjuangan meraih prestasi tersebut tidak mudah, karena harus berkompetisi dengan puluhan pesantren se-Jabodetabek. Prestasi itu pun diraih bukan karena faktor kebetulan, tetapi karena mereka mampu mempersiapkan lomba dengan baik.
Tuhfatul Millah mengaku harus menyiapkan pidatonya beberapa hari sebelum berlomba. Menurutnya, bahasa Inggris bukan hanya sekedar teori saja, akan tetapi harus dipraktikkan setiap hari. “Bahasa Inggris telah dipelajari sejak SD hingga SMA hanya sebagai teori saja, agar bahasa Inggris bermanfaat maka harus dipraktikkan setiap hari,” ujar santriwati peraih juara pidato bahasa Inggris tersebut.
Selain itu, Millah juga sering membaca buku berbahasa Inggris untuk menambah kosa kata, ia juga sering berbicara langsung dengan orang asing, ketika pondok pesantren Asshiddiqiyah mendapat kunjungan dari luar negri, Millah selalu menyempatkan diri untuk menemui dan mempraktikkannya dengan bule tersebut.
Mr. Ridwan Syafi’i yang saat itu mendampingi anak didiknya menambahkan bahwa di pondok pesantren Asshidiqiyah diwajibkan menggunakan bahasa asing, Arab dan Inggris. “Kewajiban menggunaan bahasa arab dan inggris akan sangat membatu para santri dalam meningkatkan kemampuan berbahasa asing”. Tutur pria yang menjabat sebagai ketua program bahasa tersebut.
Sementara itu, Deni Marwanto (Deni) yang hobi berpidato sejak kecil selalu melatih kemampuannya di depan teman-temannya. Ia sering tampil dalam acara-acara yang diadakan oleh pondok pesantren. Menurutnya, hal yang paling ditakuti ketika tampil di depan umum adalah rasa grogi atau Demam Panggung. Namun hal ini dapat diatasi dengan seringnya berlatih. “Pidato di depan umum awalnya terasa menakutkan, tapi setelah sering berlatih jadi tidak takut lagi. Tutur Deni saat diwawancarai beberapa waktu lalu.
Ust. Imam Syafi’I, selaku kepala Madrasah Diniyah mengungkapkan rasa bangga karena santrinya bisa berprestasi. Pihaknya selama ini mendukung potensi dan kemampuan santri untuk berprestasi di segala bidang. Pensantren Asshiddiqiyah juga akan terus memfasilitasi santri lainnya agar mampu berprestasi. (Rumadie)


CNN International Klarifikasi Mengenai Islam Radikal

 AIC(JKT)
CNN internasional beberapa waktu lalu sengaja mengunjungi Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta guna mengklarifikasi masalah Islam radikal yang tersebar di belahan dunia.
Stasiun televisi berita international terbesar kedua tersebut menilai bahwa Asshiddiqiyah merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang moderat di Indonesia sehingga layak untuk dijadikan narasumber dalam pemberitaanya.
Dalam wawancaranya dengan reporter CNN, KH. Ahmad Mahrus Iskandar, Bcs, menceritakan tentang hakikat Islam yang sebenarnya. “Islam itu rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam, jadi kalau ada orang mengaku Islam namun dia tega meneror, mengganggu bahkan membunuh manusia lain hanya karena berbeda keyakinan maka perlu dipertanyakan ke-Islamannya” tutur kyai muda yang akrab dipanggil Gus mahrus tersebut.
AsshiddiqiyahDengan kemampuan bahasa inggrisnya, beliau menjelaskan tentang sejarah singkat masuknya Islam di Indonesia yang dibawa oleh Wali Songo, serta Madzhad Syafi’i sebagai panutan dalam masalah fikihnya.  “Ritual keagamaan di Indonesia berbeda dengan di Arab Saudi, karena kita menganut Madzhab Syafi’i sedangkan Arab Saudi menganut madzhab Maliki” jelasnya.
Selain itu, media yang yang berpusat di Amerika Serikat itu juga mewawancarai beberapa santri terkait terorisme dan radikalisme. Tuhfatul Mila, santriwati kelas X Madrasah Aliyah mengaku tidak takut dengan penyebaran idiologi radikal yang marak diberitakan di berbagai stasiun televisi, karena di pondok ini para santri telah dibentengi dengan ajaran akidah yang benar. Ia justru mengkhawatirkan nama baik Islam akan tercoreng sebab tingkah laku beberapa glintir orang tidak bertanggung jawab yang mengatas-namakan Islam.  
AsshiddiqiyahSelanjutnya mereka menelusuri area pondok pesantren termasuk masjid, lapangan, dan ruang kelas untuk melihat langsung sistem pendidikan yang diterapkan di Asshiddiqiyah Jakarta.

Setelah mendapatkan informasi yang cukup mengenai Islam moderat, reporter CNN tersebut menutup liputannya dengan kalimat “Teacher of Islamic Boarding School said that the target mission is protect the children from radical ideology” (Rumadie)

Asshiddiqiyah


Asshiddiqiyah

Asshiddiqiyah

Asshiddiqiyah


Rabu, 04 Mei 2016

Teruntuk Kitab Kuningku, Maafkan Aku Tak Mampu Memahamimu


Asshiddiqiyah

AIC(JKT)
Sepuluh tahun aku mengenalmu, saat takdir mempertemukan kita di sebuah gubuk santri dengan suasana yang masih asri. Sejak saat itu aku jatuh hati padamu, aku terperangkap oleh pesonamu hingga aku memutuskan untuk hidup bersama dalam satu tenda denganmu.

Rutinitas sebagai santri tidak pernah terasa membosankan. Pendampinganmu memberiku alasan untuk bangun di pagi hari sebelum kemudian berjuang lagi

Kitab Kuning, Namamu Tetap Kuning Meski Kau Tak Kuning Lagi.

Asshiddiqiyah

Sebuah kitab warisan para ulama salaf yang ditulis tanpa harakat. Entah sengaja atau memang kebingungan mau dikasih harakat apa. Tapi apapun alasannya, kitab kuning telah memiliki tempat tersendiri di hati para santri, dan hanya merekalah yang bisa mengerti, bahkan telah dijadikan ajang perlombaan oleh beberapa lembaga dan organisasi.
Pada awalnya kitab-kitab tersebut dicetak dengan kertas berwana kuning, itu sebabnya dinamakan kitab kuning. Namun saat ini banyak kita temui kitab-kitab klasik yang dicetak dengan kertas putih. Namun apapun warna kertasnya, kitab kuning tetaplah kitab kuning.

Nahwu Sharaf Adalah Ilmu Alat
Asshiddiqiyah

          Tadinya aku bingung, kenapa para santri bisa membaca kitab segundul itu. Mungin mereka ngarang, atau mungkin mereka dukun yang bisa menebak ini dan itu. Ternyata tidak, setelah saya selidiki lebih mendalam, mereka memiliki ilmu khusus yang tidak pernah mereka dapatkan  dibangku sekolah. “Nahwu dan Sharaf” atau yang sering dikenal dengan nama ilmu alat adalah dua ilmu yang tidak dapat dipisahkan. Beda banget sama aku dan kamu, dua insan yang tidak dapat disatukan.(ngenesttt)
          Nahwu adalah ilmu yang mempelajari bagaimana ending sebuah hubungan, akhir sebuah kalimat, yang kadang dibaca A, I, U atau dibaca sukun. Sedangkan sharaf membahas tentang perubahan kalimat, keduanya benar-benar saling melengkapi. So sweet banget. Dua ilmu tersebut menggiringku untuk masuk di pendidikan bertaraf internasional akhirat yang disebut dengan pondok pesantren. Buku karangan KH. Mokhtar Anwar, terjemahan matan jurumiyah dan imrity yang disertai penjelasannya, adalah buku tidak kuning yang pertama kali memperkenalkan aku dengan ilmu nahwu.

Memahamimu Tidak Semudah Membalikkan Telapak Tangan, Apalagi Telapak Tangannya Mantan

Asshiddiqiyah
Tak semudah yang aku bayangkan, ilmu nahwu menawarkan sejuta keunikan yang sulit untuk aku pahami. Mempelajari ilmu nahwu tidak semudah membalikkan telapak tangan, Apalagi telapak tangannya mantan.
          Sebelumnya, aku mengira bahwa mempelajari tata cara membaca kitab gundul bukan gundul- gundul pacul cukup dengan mengkhatamkan kitab jurumiyah. Ternyata tidak sesimpel itu. diatas jurumiyah masih ada imrity, disusul dengan mutammimah dan alfiyah kok kayak nama tetangga aku sumua Yaa bener banget, kalian pasti punya temen yang namanya sama kayak nama kitab.   
          Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar, semenjak aku meninggalkan bangku SMP hingga kini usiaku tak muda lagi. Saat pertanyaan kapan nikah lebih menghantui dari pada nadzom alfiyah, aku belum juga mampu memberi nafkah harokat pada kegundulanmu. Maafkan aku, tak mampu memahamimu.
Tak jarang pak Kyai menegurku karena aku salah mengartikanmu atau tak peka dengan kode-kodemu. Namun hal itu tak membuatku baper apalagi mager. Aku tetap berjuang untukmu. Mungkin tidak akan menjadi pertanyaan kubur, tapi mungkin menjadi pertanyaan calon mertua sebagai syarat mempersunting putrinya, kitab apa yang bisa kau baca ??

 Bukan berarti aku lelah dan berpindah ke cinta yang lebih indah. Namun aku tergoda dengan rayuan manis internet, aku jatuh cinta padanya. Sebuah kisah tak pernah ku bayangkan sebelumnya.  Tak seharusnya aku mengenalnya secepat ini dan meninggalkanmu begitu saja. (Rumadie)

Selasa, 03 Mei 2016

Profil Madrasah Aliyah Manbau Ulum