SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA 1437 H

Mari Kita Jadikan Ramadhan Sebagai Momentum Peningkatan Iman

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA 1437 H

Mari Kita Jadikan Ramadhan Sebagai Momentum Peningkatan Iman

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA 1437 H

Mari Kita Jadikan Ramadhan Sebagai Momentum Peningkatan Iman

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA 1437 H

Mari Kita Jadikan Ramadhan Sebagai Momentum Peningkatan Iman

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA 1437 H

Mari Kita Jadikan Ramadhan Sebagai Momentum Peningkatan Iman

Kamis, 09 Juni 2016

Ma'had Aly Jakarta : Pusat Kajian Islam Nusantara


 Jakarta, AIC Pusat -  pasca memperoleh SK Mentri Agama di Jombang (30/5/16), Ma’had Aly Asshiddiqiyah semakin mendapatkan perhatian dari semua kalangan, termasuk media masa.
“Saya sangat tertarik untuk mewawancarai pengelola Ma’had Aly Asshiddiqiyah, mohon kalau berkenan untuk meluangkan waktu.” Kata Iwan, Reporter Majalah Gatra melalui sambungan telepon. (kamis, 09/06/16)
Sesuai keputusan PMA (Peraturan Mentri Agama) nomor 71 tahun 2015, setiap Ma’had Aly hanya diberikan kewenangan untuk membuka 1 Prodi Jurusan. “Al-hamdulillah, kita sengaja memilih Prodi Sejarah Peradaban Islam, walaupun sudah 10 tahun berkecimpung di spesialisasi Fikih dan Ushul Fikih” kata Noor Salikin, Ketua II bidang kurikulum dan kemahasiswaan.
Wawancara seputar pola pembelajaran dan kurikulum Ma’had Aly dirasa penting. Selain memperkenalkan perguruan tinggi baru, juga untuk memberikan informasi kepada masyarakat  perihal perbedaan dan keunggulan kampus yang berbasis pesantren ini.
“Hemat saya, ada dua distingsi dan exelensi antara Ma’had Aly dan Perguruan Tinggi lain : pertama, kurikulum berbasis pesantren atau 80% lebih kepada pengkajian teks kitab kuning, sehingga akan membentuk output yang mempunyai kapabilitas dan sanad keilmuan yang jelas. Kedua, harus tinggal dipesantren sebagai langkah untuk mengkontrol kepribadian para Mahasantri.” Lanjut Ustad muda jebolan Universitas al-Ahgaff Yaman itu.
Terkait prodi Sejarah Peradaban Islam, merupakan prodi unggulan yang dipilih oleh Ma’had Aly Asshiddiqiyah. “Kenapa bisa memilih prodi ini? Sedangkan sudah berjalan 10 tahun lamanya dengan spesialisasi Fikih dan Ushul Fikih!” Tanya wartawan Gatra asal Jember yang mempunyai nama lengkap M Afwan Fathul Bari.
Ini terkait dengan kemampuan dosen dan kebutuhan masyarakat mengenai pentingnya kembali kepada sejarah, khususnya Islam Nusantara. “Ini akan menjadi  persaingan dan pesebaran prodi yang fantastis! Ma’had Aly Asshiddiqiyah harus menjadi pusat kajian Sejarah Islam Nusantara dan Dunia.” Tukas kepala II prodi Sejarah Peradaban Islam ini dengan optimisme yang tinggi.(N/S)


Selasa, 31 Mei 2016

Tingkatkan Kualitas Pendidikan, Puluhan Guru Ikuti Workshop “Lesson Study”


AIC(JKT)
      Sampoerna University menggelar workshop “Lesson Study” di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta, Senin (30/05/16). Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari dan diikuti oleh puluhan guru dari Jabodetabek.
     Maryam Mursadi, Fasilitator workshop menjelaskan bahwa Lesson Study merupakan kegiatan untuk meningkatkan pembelajaran di sekolah. “Awalnya kegiatan ini dipopulerkan di Jepang, bermula ketika para guru menemukan banyak hambatan saat mengajar di kelas. Kemudian mereka berkumpul dan berdiskusi untuk mencari solusi,  akhirnya dibentuklah Lesson Study ini”. Ungkap wanita yang akrab dipanggil Maryam itu.
     Ahmad Mubin, salah satu peserta asal Depok, mengaku senang mendapat kesempatan mengikuti workshop tersebut. “ Saya senang sekali bisa mengikuti kegiatan ini, pengalaman ini nantinya akan saya ajarkan kepada murid-murid saya di Depaok.” Ujar pria paruh baya itu.
     Dalam kegiatan tersebut, mereka dipersilahkan untuk mengutarakan keluh kesah serta hambatan yang mereka hadapi ketika mengajar di kelas, kemudian didiskusikan bersama kelompoknya untuk dicari solusinya.
      Tidak hanya teori, materi yang diberikan langsung dipraktikkan di beberapa kelas di pondok pesantren Asshiddiqiyah. Masing-masing kelompok menggunakan metode yang berbeda. Misbahul Aziz misalnya, ia bersama kelompoknya  mengajar di kelas XI Putra. Peserta didik dipersilahkan untuk menonton video tentang tata cara sholat, kemudian mereka harus menyimpulkan serta menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan oleh gurunya.
     Berbeda dengan Ahmad Mubin yang mengajar bahasa Inggris di kelas XI Putri. Ia menempelkan sebuah gambar makanan di papan tulis, lalu setiap anak diharuskan menulis satu kosa kata yang berkaitan dengan gambar tersebut. Dengan antusias, para siswa maju satu persatu menulis kosa kata yang diinginkan.
     Sementara Herningsih dengan metode nyanyiannya praktik mengajar di kelas VIII SMP.  Metode ini cukup mampu menarik perhatian para siswa. Terbukti saat ia menerangkan, seluruh perhatian siswa tertuju padanya serta menirukan setiap nada yang dinyanyikan oleh Ibu Her. (Rumadie)























Minggu, 29 Mei 2016

13 Ma’had Aly Segera Diresmikan


AIC(JKT)
       Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin akan segera meresmikan 13 Ma’had Aly dengan memberikan izin pendirian sekaligus Nomor Statistiknya. Pengakuan ini bermula dari ditandatanganinya Peraturan Menteri Agama Nomor 71/2015 tentang penyelenggaraan Ma’had Aly.
      Peresmian akan dilakukan bersamaan dengan Wisuda ke III Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asyari Ponpes Tebuireng Jombang pada Senin, 30 Mei mendatang.
       Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin menjelaskan bahwa Ma’had Aly adalah satuan pendidikan yang didirikan dan dikembangkan dari dan oleh masyarakat pesantren dan berada di pesantren. Meski begitu, keberadaan Ma’had Aly bukan hanya untuk kepentingan masyarakat pesantren saja, tapi juga kebutuhan bangsa Indonesia.
      Menurut Kamaruddin, kehadiran PMA 71/2015 tidak saja memastikan legalitas Ma’had Aly dalam sistem pendidikan nasional. Lebih dari itu, PMA ini memperjelas komitmen Pemerintah untuk mewujudkan Ma’had Aly setara dengan lembaga pendidikan tinggi agama dan lembaga pendidikan tinggi umum. Kesetaraan dimaksud, baik dalam pengakuan, status, lulusan, maupun perhatian Pemerintah terhadap keberlangsungan dan pengembangannya.
      “Kehadiran PMA ini juga akan mempermudah langkah mewujudkan Ma’had Aly sebagai instrumen kelembagaan permanen untuk menjawab problem mendasar umat Islam Indonesia seiring semakin langkanya kyai-ulama yang berintegritas, berkarakter, dan berwawasan kebangsaan,” paparnya.
      Peresmian ke-13 Mahad Aly ini adalah langkah awal proses revitalisasi Ma’had Aly oleh Kementerian Agama. Ke depan, lanjut Kamaruddin, Kemenag akan berupaya agar layanan pendidikan yang diharapkan mencetak sarjana (S1) dengan kualifikasi kader kyai-ulama ini dapat dibuka di setiap provinsi di seluruh Indonesia. Tidak hanya menguasai kitab kuning tradisi intelektual pesantren, mereka diharapkan mampu mengkontekstualisasikannya dalam kehidupan kontemporer, dan mampu mendialogkannya dengan ilmu-ilmu sosial, ilmu-ilmu budaya, dan atau ilmu-ilmu kealaman untuk mewujudkan kehidupan umat manusia yang adil, maslahat, dan bermartabat.
      Selain menjadi pengasuh pesantren, Sarjana Ma’had Aly dapat menjadi dosen perguruan tinggi, guru profesional, penghulu KUA, hakim agama, pegawai pemerintah di bidang keagamaan, serta anggota Dewan Pengawas Syari’ah dan profesi lainnya.
“Di bidang keilmuan, lulusan Ma’had Aly juga dapat berprofesi sebagai penulis, peneliti, muballigh, dan akademisi. Dari situ, diharapkan lulusan Ma’had Aly bisa mengisi kebutuhan masyarakat terhadap ulama yang mumpuni dan berintegritas,” tandas Kamaruddin.
Berikut adalah nama-nama ma’had aly yang akan mendapat surat izin sekaligus nomor statistik.
1.    Ma’had Aly PP Asshiddiqiyah, Jakarta
2.    Ma’had Aly PP salafiyah Syafi’iyah, situbondo, jawa        timur.
3.    Ma’had Aly PP tebu Ireng, Jawa Timur
4.    Ma’had Aly PP Tremas, Jawa Timur
5.    Ma’had Aly PP Maslakul Huda, Kajen Pati, Jawa              Tengah
6.    Ma’had Aly PP sarang Rembang, Jawa Tengah
7.    Ma’had Aly PP Hikamussalafiyah, Cirebon
8.    Ma’had Aly PP Manonjaya, Tasikmalaya, Jawa Barat
9.    Ma’had Aly PP As’ad, Jambi
10. Ma’had Aly PP Parabek, Padang
11. Ma’had Aly PP MUDI, Berium, Aceh
12. Ma’had Aly PP As’adiyah Sengkang, Sulawesi Selatan
13. Ma’had Aly PP Rasyidiyah Kholidiah, Muntai,                   Kalimantan Selatan.
(Red: Rumadie)



Sabtu, 28 Mei 2016

Syamsuri: Remaja Muslim Generasi Terancam

Asshiddiqiyah

AIC(JKT)
      Remaja muslim adalah generasi yang terancam punah. Hal ini diungkapkan Drs. H. Syamsuri, MM saat menghadiri acara Rapat Kerja (Raker) II Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Jakarta Barat di Gedung Pendopo Lt.2 Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta Barat, Sabtu (28/05/16).
       Pelaksana Tugas Harian (Plh) Kasi Pendidikan Diniyah Pondok Pesantren (PD Pontren)  itu mengutarakan keresahannya terhadap pendidikan Islam di masa mendatang. Ia menilai bahwa semakin hari tantangan terhadap pendidikan Islam semakin berat. “Jangankan maju, bisa bertahan saja syukur” ujarnya.
       Selanjutnya, beliau mengatakan bahwa Madrasah Diniyah adalah pondasi keagamaan bagi bangsa ini. Sementara perang pemikiran antara pemikiran dunia dan pemikiran agama terus berkecamuk. Anak-anak kita megalami kebingungan untuk menentukan yang hak dan yang bathil. “Keresahan ini menjadi tanggung jawab moral bagi kita selaku pendidik”. Tutur Syamsuri.
       Dalam data statistik kependudukan, kata beliau, tidak ditemukan data tentang agama sejak 2011. Mereka sengaja menyembunyikan data tersebut. Bahkan beberapa waktu lalu, Mendagri, Tjahjo Kumolo mengutarakan penghapusan kolom agama di Kartu Tanda Penduduk (KTP).
       Lebih jauh beliau mengatakan bahwa Kristenisasi berpusat di Jakarta Barat. Kampung-kampung Islam mulai digusur, sementara gereja-gereja tumbuh subur di berbagai sudut. Saat ini ada sekitar 80 titik yang menjadi target penggusuran oleh Pemda DKI. Salah satunya adalah makam keramat Luar Batang. “Kalau sampai Makam Luar Batang berhasil digusur, kiamat sudah Jakarta”. Sambungnya.
       Saat ini kita dipertontonkan dengan ketidakadilan, namun kita tidak berdaya. Pada masa orde baru, penduduk muslim Indonesia sebesar 89%, data terakhir menurun menjadi 73 %. kita tidak ingin seperti Singapura atau Spanyol, menjadi minoritas di negri sendiri. Dahulu singapura mayoritas berpenduduk muslim, namun sekarang muslim menjadi minoritas, begitu juga Spanyol, hanya bangunan peninggalan sejarah yang tersisa.
      Sebelum menutup sambutannya, Ust. Syamsuri berpesan kepada peserta Raker, jika ingin masyarakatnya berkah, maka pilihlah pemimpin muslim. Non muslim mungkin bisa mengurus Negara, tapi sulit untuk mendatangkan berkah.
       Dalam kesempatan yang sama, Ketua DPW FKDT DKI, Ust. Nuruddin, S.Ag mengkritik kinerja pengurus cabang FKDT Jakarta barat yang dinilai mengalami penurunan. Hal ini dapat dilihat dari kurang aktifnya pengurus dalam berbagai acara. Evaluasi organisasi juga luput dari pembahasan dalam raker tersebut. Beliau menyarankan kepada seluruh pengurus dan Kepala Sekolah Madrasah Diniyah agar selalu hadir dalam setiap undangan, sebagai salah satu bentuk keseriusannya dalam mengemban amanah. (Rumadie)









Jumat, 27 Mei 2016

Anak Adalah Aset Terbesar, Cara Paling Ampuh Untuk Menjaganya Adalah Dengan Memasukkannya Ke Pesantren

Aroma kenakalan remaja semakin hari semakin merebak. Berita kriminal, baik pembunuhan, pemerkosaan, pencabulan setiap hari menghiasi layar kaca. Hal ini sangat mengiris hati para orang tua yang khawatir dengan masa depan putra-putrinya. Bahkan pelakunya adalah generasi emas yang masih di bawah usia. Sehingga kita terserang kekhawatiran ganda. Di satu sisi khawatir anak kita terseret menjadi pelaku kejahatan, di sisi lain khawatir anak kita menjadi korban kejahatan.

Meskipun pemerintah telah menerbitkan Perpu tentang hukuman kebiri bagi kejahatan terhadap anak, namun hal itu tidak serta merta menghilangkan kekhawatiran tersebut.

Orang tua adalah sosok yang oleh Allah SWT. diamanahi tanggung jawab penuh terhadap perkembangan dan masa depan anak. Seorang anak akan menjadi baik atau buruk  adalah tergantung bagaimana didikan orang tuanya. Namun sering kali mereka lupa dengan tanggung jawabnya, mereka sibuk bekerja sehingga melalaikan tanggung jawabnya.

Hal ini yang mengetuk hati para Ulama dan Kyai untuk mendirikan sebuah pendidikan yang dikenal dengan Pondok Pesantren. Karena mereka tak ingin generasi pemegang negri ini kehilangan jati-dirinya sebagai penerus bangsa. Para kyai dengan sabar dan ikhlas meluangkan tenaga, waktu, dan pikirannya untuk mengurus para santri yang seharusnya menjadi tanggungjawab orang tua masing-masing.

Terobosan ini hendaknya mendapat dukungan dari para orang tua yang tak ingin anaknya terjerumus ke dalam pergaulan yang brutal. Karena anak adalah aset terbesar kita, maka cara yang paling ampuh untuk melindungi aset kita adalah dengan memasukkanny ke Pesantren.

Pesantren memiiki mesin kontrol 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu tanpa shift. Orang tua bisa fokus bekerja tanpa meninggalkan tanggung-jawabnya sebagai pengemban amanah. Maka berutunglah mereka yang terbuka hatinya untuk menitipkan putra-putrinya di pesantren.

Pondok Pesantren Asshiddiqiyah merupakan lembaga pendidikan Islam di tengah ibukota yang telah berdiri lebih dari seperempat abad dan telah meluluskan ribuan santri yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Semoga ini bisa menjadi refrensi bagi para orang tua untuk memilih pendidikan yang tepat bagi putra-putrinya. (Rumadie)

Jumat, 13 Mei 2016

IJAZAHI SANAD HADITS, MUFTI LIBANON KUNJUNGI PONPES ASSHIDDIQIYAH

Asshiddiqiyah

AIC(JKT)
Mufti Lebanon,Syekh Amin Kurdi  berkunjung ke Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta, Kamis 12 Mei 2016. Beliau disambut langsung oleh Mudzir  ‘Aam Ponpos Asshiddiqiyah, KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ. Dalam kunjungannya, beliau mengijazahkan sanad hadits At-Tirmidzi yang dirangkum dalam kitab Syamailul Muhammadiyyah.
Pengasuh Ponpes Asshiddiqiyah Jakarta, KH. Ahmad Mahrus Iskandar, Bcs, bersama 190 santrinya hadir dalam pengijazahan tersebut. Mereka sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut. Sugeng Riyadi, salah satu santri asal Bogor, merasa bersyukur bisa bertatap langsung dengan ulama Libanon tersebut, ia rela menempuh jarak yang cukup jauh demi untuk bertemu dengan Syekh Amin. “Saya bersyukur bisa belajar dan bertatap muka langsung dengan beliau. Ini adalah kesempatan yang sangat luar biasa”. Ujur pria kelahiran Lampung tersebut.
Selama 2 hari beliau membacakan kitab Syamailul Muhammadiyyah yang dialih-bahasakan oleh dua penerjemah dari ponpes Asshiddiqiyah Jakarta, Ust. Musa Wardi dan Ust. Abdurrahman Malik.  Kitab tersebut merupakan kumpulan hadits tentang kepribadian Nabi Muhammad Saw. Beliau adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, nabi akhir zaman, manusia terbesar yang pernah dilahirkan oleh sejarah.
Hadits-hadits tersebut mengajak umat Islam menyelami sosok, perilaku dan kebiasaan sehari-hari Rasulullah. Termasuk bagaimana Rasulullah berpakaian, bersisir, bersarung, bersorban, bercincin hingga menanggalkan kedua sandalnya. Tidak hanya itu, minuman dan makanan favorit hingga minyak wangi kesukaan beliau juga turut dipaparkan.

Dalam kajiannya di Gedung Pendopo Lantai 2 Ponpes Asshiddiqiyah Jakarta, Syekh Amin menjelaskan bahwa Nabi SAW adalah idola sepanjang masa, teladan sepanjang hidup manusia, panutan terbaik, dan juga tokoh legendaris yang pernah ada di permukaan bumi. “Keteladannya tidak hanya tampak dalam kancah dakwah, muamalah, ibadah, iqtishaadiyah (ekonomi), siyaasah (politik), namun di semua lembaran kehidupan termasuk tata bicara, tawa dan canda beliau”. Tutur ulama asal Libanon itu.   Dari kajian tersebut, para santri banyak mendapatkan hal baru yang jarang tersingkap dari kehidupan Rasulullah Saw. (Rumadie)
Asshiddiqiyah


Asshiddiqiyah


Asshiddiqiyah

Asshiddiqiyah