Penciptaan Rasulullah SAW Disebut-sebut Sebagai Nikmat Paling Besar Yang Diberikan Allah SWT


AMC -
 Berbicara terkait nikmat Allah SWT di muka bumi ini, Ustaz Saeful Munadi, S.HI. menjelaskan bahwa nikmat yang paling besar di alam raya ini yang diberikan oleh Allah SWT adalah diciptakannya Baginda Rasulullah Saw. Hal ini beliau ungkapkan secara langsung pada acara Majelis Dzikir Ta’lim dan Sholawat pondok pesantren Asshiddiqiyah Jakarta pada Sabtu malam (07/10) di lapangan Asshiddiqiyah.

Pembahasan ini bermula ketika Ustaz Saeful Munadi menceritakan terkait pertanyaan Nabi Daud As kepada Allah SWT perihal nikmat yang terkecil dan yang paling besar. Di mana Nabi Daud As bertanya kepada Allah SWT, “Ya Allah, nikmat apa yang kecil yang engkau berikan kepada manusia? Kemudian Allah menjawab, “Wahai Daud, nikmat yang kecil yang aku berikan kepada manusia adalah keluarnya nafas dari makhlukku yang bernyawa.”

Setelah mendapat jawaban itu, Nabi Daud As bertanya kembali kepada Allah SWT, “Wahai Allah … nikmat apa yang paling besar yang engkau berikan kepada semua makhluk di alam ini? Lalu dengan tegas Allah menjawab, ” nikmat terbesar di alam raya ini yang aku ciptakan dan aku berikan adalah kuciptakannya Baginda Rasulullah Saw.”

“Beliau Rasulullah Saw adalah manusia paling hebat sejagad raya, manusia paling hebat sealam raya, manusia yang sudah diciptakan oleh Allah SWT sebelum Allah menciptakan Nabi Adam As, manusia yang akan memberikan syafaat kelak nanti di yaumil qiyamah. Hanya Nabi Muhammad Saw yang mempunyai derajat yang mulia yaitu ‘al wasilah’ beliau sang pemberi syafaat,” lantang Ustaz Saeful di hadapan para santri.

Abbas bin Abdul Mutholib (paman Rasulullah Saw) ketika Rasulullah Saw dilahirkan ke bumi ini. Pancaran sinar cahaya yang begitu amat terang benderang terpancar menyinari seluruh penjuru kota Makkah Al-Mukarramah. Sampai-sampai Abbas membuat sebuah syair indah untuk memuji keindahan beliau Rasulullah Saw.

وَأَنْتَ لَمَّا وُلِدْتَ أَشْرَقَتِ اْلأَرْضُ وَضَاءَتْ بِنُوْرِكَ الْأُفُقُ فَنَحْنُ فِيْ ذَالِكَ الضِّيَاءِ وَفِي النُّوْرِ وَسُبُلٍ الرَّشَادِ نَخْتَرِقُ

“Ketika engkau dilahirkan, bumi menjadi bersinar, cahaya dan cakrawala menjadi terang berkat cahayamu. Maka, kami menerobos dalam sinar, cahaya dan jalan-jalan petunjuk itu.”

Selain itu, Abu Hurairah ketika ditanya oleh Rasulullah Saw perihal  kapan beliau akan menikah. Karena pada saat itu Abu Hurairah sudah cukup mapan dan matang untuk menikah. Maka, Abu Hurairah menjawab bahwa beliau juga pria normal yang pasti memiliki keinginan untuk menikah. Akan tetapi, beliau sadar dan merasa bahwasanya tidak ada kebahagiaan yang melebihi bahagianya bisa duduk bersanding dengan Rasulullah Saw. Hal ini menandakan bahwa saking cintanya para sahabat terhadap Rasulullah, hingga mereka tidak rela sedetik pun waktu mereka terlewati tanpa Rasulullah Saw.

“Abu Hurairah menikah di atas umur 40 tahun setelah wafatnya Rasulullah Saw. dan tidak ada seseorang yang merasakan sedihnya kehilangan seperti sedihnya para sahabat ketika Rasulullah wafat. Seakan seluruh dunia pada saat itu diam dan berhenti bergerak karena kehilangan sosok manusia makhluknya Allah SWT yang paling dicinta oleh semua makhluknya Allah Swt. Masyaallah,” papar Ustaz Saeful Munadi.

Di akhir tausiahnya, tidak lupa Ustaz Saeful juga memberikan nasihat kepada para santri untuk terus bersyukur atas beribu nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepada kita. Segala rasa susah payah sebagai santri merupakan bentuk/cara para santri dalam usahanya membersihkan hati dalam rangka mempersiapkan masa depan yang cemerlang.

“Karena itu syukuri dan nikmati kita belajar di pesantren Asshiddiqiyah. Apa yang saat ini kita rasa, ada gelisah, ada galau, ada sedih, ada takut itu semua bagian daripada kita membersihkan hati kita. Nanti di masa yang akan datang galau tidak akan lagi bersama kita karena sudah kita bersihkan di pesantren Asshiddiqiyah ini. Sedih tidak ada lagi di kehidupan kita, rasa takut menghadapi kehidupan masa depan  akan sirna karena kita sudah ditempa di pondok pesantren Asshiddiqiyah ini. Insyaallah,” pungkas Ustaz Saeful Munadi. (Winda)

Share on Google Plus

About Asshiddiqiyah Media Center

Pondok Pesantren Asshiddiqiyah didirikan pada Bulan Rabiul Awal 1406 H ( Bulan Juli 1985 M ) oleh DR. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ. Dalam kapasitasnya sebagai lembaga Pendidikan, Keagamaan, dan Kemasyarakatan, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah senantiasa eksis dan tetap pada komitmennya sebagai benteng perjuangan syiar Islam. Kini dalam usianya yang lebih dari seperempat abad, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah telah membuka 12 Pesantren yang tersebar di beberapa daerah di pulau Jawa dan Sumatra.

0 komentar :