Ada yang Lemas Puasa Hari Pertama?


AMC - Ramadhan tiba, Ramadhan tiba, Ramadhan tiba! Hari ini Senin 6 Mei 2019 tepatnya 1 Ramadhan 1440 H, seluruh umat muslim di dunia melaksanakan ibadah puasa. Agenda wajib tahunan ini pastinya dinanti-nanti setiap muslim. Sebagai bulan yang penuh kemuliaan, barokah, kebaikan dan pahala yang berlipat ganda, setiap muslim berlomba-lomba untuk mengisi tabungan kebaikannya agar nanti dapat menyambut Hari Raya Idul Fitri dengan penuh suka cita. 

Tapi, ada juga yang lemas saat Ramadhan datang? 

Sering kali muncul meme di media sosial yang bertuliskan, "Besok siang es teh enak banget, nih." Ada lagi, "Ngeliat helm abang ojek online inget kelapa muda." 

Tapi, sekalipun itu hanya sekedar gurauan seputar Ramadhan, ada hikmah yang terkandung di dalamnya. Salah satu hikmah yang dapat kita ambil ialah hal-hal tersebut merupakan contoh kecil godaan selama bulan puasa, sedangkan kenyataannya masih banyak godaan yang lebih besar. Misalnya menahan marah selama puasa, memang bukan termasuk hal yang membatalkan puasa, tapi puasa kita menjadi kurang sempurna.
   
Ada lagi kelebihan bulan yang sering diartikan ‘bulan pembakaran’ ini, yakni bulan pembakaran atas dosa-dosa dan segala kemaksiatan dengan melakukan puasa, shalat malam dan ibadah-ibadah lain yang mana pahala berlipat ganda pada bulan ini. Ada juga yang menyebutnya bulan ‘mengeram’. Nah loh, emang telur ayam dierami. Yang 'mengeram' disini maksudnya hati. Jadi, Ramadhan merupakan bulan tafakkur, berzikir dan berfikir agar hati dan pikiran kita kembali lurus sesuai jalan takwa yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Lalu, bagaimana dengan muslim yang masih males-malesan melaksanakan puasa Ramadhan?

Ada sebuah maqalah dari sahabat NAbi SAW., yakni Abdullah Ibnu Mas’ud. Ia berkata, “Telah tetap bagi mukmin bahwa siapa-siapa yang meninggalkan puasa tanpa udzur (sakit, dll), dia lebih jahat dari pezina dan peminum arak.”

Hal ini merujuk pada hadits Rasulullah SAW. yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah dan Tirmidzi dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW. bersabda, “Barang siapa berbuka puasa (di siang hari) Ramadhan tanpa ada alasan (halangan) sakit, hal itu tidak dapat tak dapat diganti dengan puasa selama hidup."

Rasulullah SAW. telah mencontohkan keseharian beliau dalam menjalani Ramadhan dengan tetap beraktifitas, namun mengandung pahala ibadah. Rasulullah SAW. berbuat baik selama siang Ramadhan sebagai bentuk penyempurna puasa, tidak sekedar tidur sepanjang hari dengan alasan lemas dan dikhawatirkan batal puasa. Siang hari Ramadhan dapat diisi dengan aktifitas yang bermanfaat dan berpahala, seperti belajar di sekolah bagi pelajar, membaca al-Qur’an, membantu orang tua, dan bagi para pekerja tetap menjalankan tugasnya, insya Allah ibadah puasa dan pekerjaanya diberkahi oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW. selalu mensyukuri rasa lapar di siang Ramadhan dan rasa kenyang ketika telah berbuka sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya. Allah mensyariatkan umat Islam untuk menahan diri dari makan, minum dan hal lain yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Tidak lebih. Tidak sampai 24 jam. Hikmahnya, tubuh manusia, khususnya lambung dan kawan-kawan perncernaan butuh istirahat. Setidaknya selama 1 bulan ini mereka tidak bekerja keras mengolah makanan seumur hidup manusia. 

Agar tubuh tidak lemas ketika puasa, jangan lupa sahur! Sahur itu mengandung barokah rohani dan jasmani. Barokah rohani karena sahur merupakan sunnah Rasulullah SAW. Beliau menganjurkan umatnya untuk makan sahur sebelum berpuasa. 

Rasulullah SAW. pernah bersabda, “Makanlah sahur, karena  ada berkah dalam makan sahur.”

Berkah jasmani ialah suplai nutrisi ke dalam tubuh agar bugar dan kuat menjalani puasa dari fajar sampai maghrib datang.

Jadi, masih ada yang lemas selama Ramadhan? (Lail - Dikutip dari berbagai sumber)
Share on Google Plus

About Asshiddiqiyah Media Center

Pondok Pesantren Asshiddiqiyah didirikan pada Bulan Rabiul Awal 1406 H ( Bulan Juli 1985 M ) oleh DR. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ. Dalam kapasitasnya sebagai lembaga Pendidikan, Keagamaan, dan Kemasyarakatan, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah senantiasa eksis dan tetap pada komitmennya sebagai benteng perjuangan syiar Islam. Kini dalam usianya yang lebih dari seperempat abad, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah telah membuka 12 Pesantren yang tersebar di beberapa daerah di pulau Jawa dan Sumatra.