Siap Cakap Digital, Kominfo Ajak Santri Asshiddiqiyah Bijak Gunakan Teknologi

AMC - Dalam upaya meningkatkan kemampuan literasi digital nasional, santri Asshiddiqiyah dibekali berbagai ilmu dasar penggunaan teknologi melalui kegiatan Talkshow Pesantren Cakap Digital bersama KOMINFO, RMI-PBNU dan Siberkreasi. Kegiatan yang disambut antusias oleh para santri ini digelar pada, Senin malam (28/8) bertempat di lapangan Asshiddiqiyah Jakarta.

“Saya mengucapkan ahlan wa sahlan, welcome to our college, selamat datang ke pesantren Asshiddiqiyah bersama para santri generasi x dan generasi z saat ini,” sambut KH. Ahmad Mahrus Iskandar, B. Sc.

Menghadirkan para narasumber yang kompeten di bidangnya, Khadimul Ma’had menyulut semangat para santri agar mereka dapat mengikuti jejak para narasumber agar menjadi insan yang bermanfaat ilmunya untuk kebaikan. Beliau juga mengingatkan para santri untuk tidak menyerah pada sebuah proses dan tidak berpegang pada proses yang instan. Sudah seharusnya generasi muda berpahit-pahit di masa mudanya agar menggapai impian.

“Rasulullah Saw. mengajarkan jikalau ingin menjadi insan yang baik di mata Allah, maka harus sedikit makan dan tidur. Bukan sedikit-sedikit makan atau sedikit-sedikit tidur,” pesan beliau kepada para santri.

Sebagaimana pesan abah Noer yang beliau sampaikan malam itu, para santri jangan semuanya menjadi kiai. Para santri harus bisa menjadi apa saja dan menjadi manfaat sesuai kapasitas keilmuannya. Karena Allah Swt. menurunkan al- Qur’an kepada Nabi Muhammad Saw. bukan tanpa sebab, Allah Swt. memerintahkan manusia untuk mencari ilmu bukan hanya dengan satu cara. Intinya membuat manusia menjadi ahli ilmu yang diinginkan Allah dan rasulNya.

“Nanti kalian akan ada yang menjadi seniman, ada yang menjadi ilmuwan, ada yang menjadi dokter, ada yang menjadi politikus.” ucap beliau.

Peningkatan literasi digital nasional yang merupakan program yang sedang digencarkan oleh KOMINFO ini diharapkan agar masyarakat Indonesia dapat sebijak mungkin menciptakan interaksi dan komunikasi yang positif. Disampaikan oleh Rizki Ameliah bahwa sekitar dua ratus dua belas juta dari dua ratus tujuh puluh juta penduduk Indonesia merupakan pengguna internet aktif. Termasuk para santri Asshiddiqiyah yang didominasi oleh para remaja berusia 13 tahun keatas.

“Dunia internet memiliki dua mata yang berbeda, ada sisi positif ada sisi negatifnya. Kita harus lebih berhati-hati dalam menggunakan sosial media.” pesan koordinator nasional program literasi digital Kominfo itu.

Untuk memudahkan pemahaman para santri dalam penyampaian pesannya, Rizki Ameliah memutar dua video yang menggambarkan perkembangan dunia digital. Lalu, meminta dua santri untuk menyimpulkan pesan yang ditangkap.

“Kita harus hati-hati dengan apa yang kita bagikan di dunia online karena itu bisa berefek di kehidupan kita ke depannya.” ucap seorang santri menyampaikan pendapatnya setelah menonton kedua video tersebut.

“Jarimu adalah harimaumu, sabar sebelum sebar. Saring sebelum posting, karena semuanya bisa membahayakan.” tutup alumnus Universitas Hasanuddin Makassar tersebut mengakhiri penyampaiannya.

Dengan demikian, kehati-hatian dalam bersosial media sangat diperlukan masyarakat terutama bagi para remaja. (May)

 

 

Share on Google Plus

About Asshiddiqiyah Media Center

Pondok Pesantren Asshiddiqiyah didirikan pada Bulan Rabiul Awal 1406 H ( Bulan Juli 1985 M ) oleh DR. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ. Dalam kapasitasnya sebagai lembaga Pendidikan, Keagamaan, dan Kemasyarakatan, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah senantiasa eksis dan tetap pada komitmennya sebagai benteng perjuangan syiar Islam. Kini dalam usianya yang lebih dari seperempat abad, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah telah membuka 12 Pesantren yang tersebar di beberapa daerah di pulau Jawa dan Sumatra.

0 komentar :