10 Hari Ramadhan, Apa Saja Keistimewaannya?


AMC - Bulan Ramadhan telah tiba, bulan penuh ampunan dan rahmat akan kita rasakan selama sebulan ini. Namun apakah kita tahu bahwa bulan Ramadhan yang mulia ini memiliki beberapa fase?

Di dalam sebuah hadist dijelaskan bahwa terdapat tiga fase pembagian bulan Ramadhan. Yang kita ketahui selama ini bahwa bulan Ramadhan sama seperti bulan lainnya terdiri dari 30 hari atau 29 hari. Selama satu bulan Ramadhan ini, yang di dalamnya terdapat banyak keutamaan diantaranya yaitu bulan penuh rahmat (kasih sayang), bulan penuh maghfirah (ampunan), dan bulan itqun minannar (pembebasan dari api neraka).

Salah satu jalur periwayatan hadits ini ialah sebagai berikut:
Hadist riwayat Abu Hurairah ra,  Rasulullah saw. bersabda:
أَوَّلُ شَهْرِ رَمَضَان رَحْمَة وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَة وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّار
"Awal bulan ramadhan ialah rahmah, pertengahannya maghfirah & akhirnya adalah pembebasan dari neraka."

Menurut Prof. Ali Mustafa Ya'qub, MA, salah seorang pakar hadits di Indonesia mengatakan hadits itu memang bermasalah dari segi periwayatannya. Sebenarnya hadits ini diriwayatkan melalui dua jalur periwayatan, namun sayangnya keduanya tetap bermasalah.

Para imam dari kalangan ahli hadits dan ahli fikih telah sepakat, sebagaimana yang disebutkan juga oleh Imam An-Nawawi dan lainnya, tentang kebolehan beramal dengan hadits dhaif  (lemah, bukan hadits shahih) dalam hal fadhail (keutamaan-keutamaan), anjuran kebaikan dan ancaman keburukan. Tidak dalam perkara yang berkaitan dengan hukum halal dan haram, selama tingkat kedhaifannya tidak terlalu parah. 

Berikut ini kutipan beberapa pendapat ulama terkait hal tersebut. 
Pertama, Imam Nawawi dalam Fatawa-nya menyebutkan adanya konsensus (ijma’) di kalangan ulama terkait kebolehan mengamalkan hadits dhaif untuk hal-hal yang tidak berkaitan dengan akidah dan hukum halal dan haram.

Kedua, boleh mengamalkannya secara mutlak dalam persoalan hukum ketika tidak ditemukan lagi hadits shahih yang bisa dijadikan sebagai sandaran. Pendapat ini dinisbatkan kepada Imam Ahmad dan Abu Daud. Selain itu Imam Abu Hanifah dan Ibnu Qayyim al Jauziyyah juga mengutip pendapat tersebut.

Ketiga, hadits dhaif boleh diamalkan jika ia tersebar secara luas dan masyarakat menerimanya secara umum tanpa adanya penolakan yang berarti.

Keempat, boleh mengamalkannya ketika hadits dhaif tersebut didukung oleh jalur periwayatan lain yang sama atau lebih kuat secara kualitas darinya, sebagaimana pendapat Imam At-Tirmidzi.

Dari hadits di atas dapat kita ketahui bahwa fase tahapan di bulan Ramadhan terbagi menjadi 3, yaitu:

1.  10 Hari Pertama 
Pada 10 hari pertama bulan Ramadhan, Allah swt banyak menurunkan rahmat atau kasih sayang serta memberikan banyak limpahan pahala kepada umatnya dari berbagai amal ibadah yang dikerjakan. Fase 10 hari pertama ini disebut dengan fase bulan penuh rahmat . 
Di waktu 10 hari pertama ini dirasa menjadi waktu yang terasa sangat berat. Karena waktu ini merupakan waktu peralihan untuk badan dari kebiasaan pola makan normal menjadi menahan makan dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. 
Maka darinya, betapa merugi jika kita melewatkan waktu 10 hari pertama di bulan Ramadhan hanya dengan berdiam diri tanpa menjalankan amal ibadah. Terlebih bila tidak menjalankan puasa tanpa uzur atau alasan yang darurat. Karena di awal Ramadhan, Allah swt memberikan banyak rahmat (kasih sayang) kepada manusia. 

2. 10 Hari Pertengahan
Di fase ini, kebiasaan untuk berpuasa dirasa sudah mulai terbiasa sehingga badanpun sudah dapat beradaptasi. 10 hari pertengahan ini merupakan hari yang penuh dengan maghfirah (ampunan) dari Allah swt .
Di samping kita menjalankan ibadah puasa wajib bulan Ramadhan, maka ibadah sunnah seperti shalat malam, berdzikir, membaca al-Qur’an dan amalan baik lainnya juga harus ditingkatkan. Karena di waktu ini, Allah swt banyak memberi ampunan kepada manusia yang rajin beribadah, juga Allah swt akan mengampuni dosa mereka yang memohon ampun dengan sungguh serta penuh keikhlasan (taubat nasuha).

3. 10 Hari Terakhir 
Di 10 hari terakhir, disebutkan dalam hadits bahwa di fase ini disebut dengan fase  ‘itqun minannar yang artinya pembebasan dari api neraka. Imam Nawawi mengutip hadits dari Aisyah ra yang menceritakan bahwa Rasulullah saw selalu melakukan i'tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, hingga beliau dipanggil Allah swt (wafat). Setelah Rasulullah saw wafat, istri-istrinya meneruskan kebiasaan i'tikaf beliau.
Yang dimaksud hadist di atas bahwa Rasulullah saw menjalankan amal ibadah lebih banyak dibanding hari lainnya dalam 10 hari terakhir bulan Ramadhan itu. Keseriusan ibadah ini bukan hanya terfokus dalam satu ibadah namun beberapa ibadah seperti shalat, tilawah al-Qur’an , berdzikir dan ibadah lainnya.

Dari Abu Hurairah, ia berkata “Rasulullah bersabda, ‘Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, Allah mewajibkan atas kalian untuk berpuasa pada bulan itu, pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan pemimpin-pemimpin setan dibelenggu. Pada bulan itu, Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barang siapa yang terhalang dari kebaikannya, berarti ia telah terhalang dari segala kebaikan.’” (HR al-Nasa’i).

Di 10 hari terakhir bulan Ramadhan seperti yang dijelaskan hadist di atas, bahwa Rasulullah saw membangunkan istri–istrinya agar mereka juga menjalankan shalat, dzikir dan lainnya. Hal ini merupakan bentuk semangat Rasulullah saw agar keluarganya dapat meraih faedah yang besar pada waktu utama tersebut. Di 10 hari terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah saw juga banyak beri’tikaf di masjid dan meninggalkan kepentingan dunia, beliau melakukan hal ini bertujuan hanya untuk merasakan lezatnya ibadah pada Allah swt.

Di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan juga terdapat malam yang lebih mulia dari seribu bulan yaitu lailatul qadar. Barangsiapa yang dapat memanfaatkan momen 10 hari terakhir bulan Ramadhan dengan amal ibadah, maka Allah swt akan membebaskannya dari siksa api neraka.

Subhanallah, jadi sepanjang hari di bulan Ramadhan itu penuh akan keberkahan, kasih sayang, ampunan dan pembebasan dari api neraka. Maka dari itu, sangatlah merugi bagi siapa saja yang menyia-nyiakannya, karena kesempatan tersebut datang setahun sekali, terlebih kita tidak mengetahui apakah Ramadhan selanjutnya masih diberi kesempatan hidup atau tidak.

Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang dapat memanfaatkan kesempatan dan mendapat faedah besar serta mampu menjadi pribadi yang lebih baik dan termasuk ke dalam golongan orang yang bertakwa . (Lyda, dikutip dari berbagai sumber).
Share on Google Plus

About Asshiddiqiyah Media Center

Pondok Pesantren Asshiddiqiyah didirikan pada Bulan Rabiul Awal 1406 H ( Bulan Juli 1985 M ) oleh DR. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ. Dalam kapasitasnya sebagai lembaga Pendidikan, Keagamaan, dan Kemasyarakatan, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah senantiasa eksis dan tetap pada komitmennya sebagai benteng perjuangan syiar Islam. Kini dalam usianya yang lebih dari seperempat abad, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah telah membuka 12 Pesantren yang tersebar di beberapa daerah di pulau Jawa dan Sumatra.