Al Habib Luthfi bin Yahya: Kenapa Harus Tadabbur Hari Lahir Asshiddiqiyah?


AMC - Dalam pepatah Arab, pemuda masa kini ialah pemimpin masa depan. Lalu mampukah generasi penerus menjawab tantangan umat dan bangsa ini? Mampukah mereka menjadi pemersatu umat dan memberi keteladanan yang terpuji? Pertanyaan tersebut itulah yang selalu terbersit dalam hati Maulana Habib Luthfi bin Yahya. Mengingat negeri ini dibangun dan dirintis oleh beberapa ulama terdahulu, yang hingga kini telah membuahkan atsar (red: bentuk hasil nyata) untuk kita semua.

Para ulama yang tak cukup hanya di masa hidupnya saja menorehkan tinta emas dalam sejarah bangsa ini, namun setelah tiadanya pun namanya tetap hidup dan memberi contoh untuk umat yang ditinggalkannya. Kekayaan budaya dan keberagamannya menjadikan bangsa ini semakin kompleks namun tiada saling menyalahkan.

Seperti cara berziarah ke makam tokoh berpengaruh bagi orang muslim maupun nonmuslim dengan gaya, cara dan kepercayaannya masing-masing yang ujungnya bertemu satu titik, yaitu sikap menghargai sesama dalam keberagamannnya.

Contoh lainnya yaitu berdzikir, dengan berbagai nada dan tempo ketukannya, namun esensi kesemuanya itu masih sama yaitu ingat dan menyebut nama Allah swt.

Banyak dari kita sering lalai dalam mengingat Allah swt. Sebab kita banyak lalai itulah maka yang terjadi pada kita hanyalah melakukan perbuatan buruk. Bilamana telah tertanam dalam hati kita untuk selalu ingat pada Allah swt, maka dengannya dapat menghancurkan sifat buruk dalam diri kita, mencegahnya daripada perkara yang munkar dan mendorong kita pada perbuatan baik.

Berdasarkan hadits Rasulullah saw, tiap orang yang membasuh muka saat berwudhu, maka keluarlah sifat (akhlak) yang buruk darinya (yaitu dosanya). Hakikatnya kita berwudhu ialah untuk membersihkan diri, lalu mampukah kita untuk menjaganya agar tetap bersih dan suci tanpa terkontaminasi kotoran ? Jika anggota tubuh, ambillah perumpamaan mata dalam basuhan wudhu di wajah. Jika ia telah terkena nur wudhu (red: cahayanya wudhu), niscaya ia akan terbimbing untuk melihat segala sesuatu yang baik. Lalu lidah, dengan nur wudhu maka ia akan mulai terlatih untuk menutup aib sesamanya, menjaga kehormatan saudara muslim lainnya, dan tidak menyukai perpecahan sehingga ia selalu berhati-hati dalam berbicara.

Lalu apa hakikat ihsan sesungguhnya?
 أَنْ تَعْبـــُدَ اللَّهَ كَأَنَّــكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan engkau melihat-Nya, maka bila engkau tak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatmu.” (HR Muslim)

Jika seorang manusia selalu merasa dilihat oleh Allah swt, sehingga muncullah rasa takut dalam hatinya (khauf) hingga terwujud rasa pengharapan yang tinggi pada Allah swt (raja'), itulah ihsan. Darinya muncul tawadhu (sikap rendah hati) dan lahirlah saling menghargai, bukan saling mencela. Betapa damainya negeri ini jika penuh akan sikap toleransi.

Dalam bendera Indonesia terdapat jati diri dan kehormatan bangsa Indonesia. Maka kita harus selalu menjaga persatuan dan kesatuan NKRI. Para kiai terdahulu telah meletakkan pondasi keilmuan khususnya islam, dengan mengajarkan ilmu-ilmu dasar tentang ibadah, tajwid, dan lain sebagainya. Dari sinilah perjuangan para kiai yang patut diapresiasi dalam kaitannya mencerdaskan anak bangsa. Lalu kita sudah berkontribusi apa untuk bangsa ini?

Dalam menjawab tantangan umat, pemuda generasi inilah yang diharapkan oleh para sesepuh ulama sehingga dapat meningkatkan tanggung jawab kita dalam menghilangkan kegelisahan umat masa ini.

Begitu pula dengan santri Asshiddiqiyah. Kenapa harus Tadabbur Hari Lahir Asshiddiqiyah ke-34? Tidak lain agar para santri selalu mengingat, meneladani dan meneruskan perjuangan Abah KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ bersama para wakif dan guru-guru yang telah merintis berdirinya Asshiddiqiyah. Hingga saat ini Asshiddiqiyah telah tersebar menjadi 12 cabang di seluruh Indonesia. Tidak lain untuk mensyiarkan Islam dan menyatukan umat. (Lyda)
___________

Tulisan ini berdasarkan tausiyah Maulana Al Habib Muhammad Luthfi bin Yahya dalam acara Haflatul Ikhtitam Ponpes Asshiddiqiyah sebagai rangkaian Harlah ke-34, Kamis 25 April 2019.


Share on Google Plus

About Asshiddiqiyah Media Center

Pondok Pesantren Asshiddiqiyah didirikan pada Bulan Rabiul Awal 1406 H ( Bulan Juli 1985 M ) oleh DR. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ. Dalam kapasitasnya sebagai lembaga Pendidikan, Keagamaan, dan Kemasyarakatan, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah senantiasa eksis dan tetap pada komitmennya sebagai benteng perjuangan syiar Islam. Kini dalam usianya yang lebih dari seperempat abad, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah telah membuka 12 Pesantren yang tersebar di beberapa daerah di pulau Jawa dan Sumatra.