Hargai Perbedaan Agama, Asshiddiqiyah Berhubungan Baik Dengan Sekolah Non Muslim


AMC (Jakarta) - Jika sebulan lalu, 6 siswi muslim SMA Santa Ursula yang  melakukan Kegiatan Rekret di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Pusat, kali ini 6 orang santri Madrasah Alyah dan 6 orang santri SMP Manba'ul Ulum Asshiddiqiyah Jakarta memenuhi undangan mereka.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di sekolah tersebut, santri Asshiddiqiyah disambut ramah dan baik sekali. Mereka tidak membeda-bedakan antara muslim dan non muslim. 

"Senang banget disambut dengan ramah. Walaupun beda agama mereka bisa menghargai kita, dari situ kita dapat banyak belajar tentang menghargai perbedaan agama," ucap Linda, siswi kelas 2 SMP Manbaul Ulum Asshiddiqiyah.

Sedangkan menurut Firda, siswi kelas 5 MA Manbaul Ulum Asshiddiqiyah, "Senang sekali bisa disambut begitu ramah disini, toleransi begitu terlihat walaupun berbeda agama. Saya mengucapkan terimakasih telah diundang ke SMA Santa Ursula yang disambut hangat."

SMA Santa Ursula ini tidak hanya dihuni oleh siswi non muslim, namun ada beberapa siswi dari mereka yang muslim, tapi hanya minoritas. Latar belakang mereka masuk sekolah non muslim ini beragam, ada yang dilatar belakangi oleh keluarganya yang banyak muallaf, ada yang dikarenakan perintah orang tuanya agar lebih bisa toleransi terhadap agama lain, dan yang lainnya. Hal ini diketahui dari perbincangan bersama mereka beberapa waktu lalu.

Santri Asshiddiqiyah berkunjung ke sekolah tersebut untuk menghadiri Talkshow Tekhnologi bersama Alex, Triawan Munaf dan Devina, Sabtu (27/10). Ketiganya merupakan inspirator di bidang sosial,  tekhnologi, sains, dan sosial media. 

Triawan Munaf menuturkan bahwa di Indonesia banyak sekali tantangan tekhnologi. Indonesia sangat luas, tidak seperti di Korea yang penduduknya hanya 50 jutaan, sedangkan di Indonesia sekitar 240 juta jiwa penduduknya. Namun, banyak sekali tekhnologi di Indonesia yang didatangkan dari Korea karena mereka mempunyai semangat yang dan daya juang yang tinggi sehingga bisa menghasilkan karya yang luar biasa dan mendunia. Sebagai warga negara Indonesia sudah sepatutnya kita meniru semangat tingginya, etos kerja dan membuat kreatifitas seperti negara-negara lain demi terwujudnya karya yang mendunia.

Kami (penulis dan santri lainnya) dari Asshiddiqiyah sangat senang diundang dalam acara Talkshow yang menginspiratif dan banyak menambah wawasan. Semoga ini hubungan ini terjalin dengan baik. Perbedaan agama tidak dapat menghentikan kita untuk tetap saling menghargai dan menjalin silaturahim. (Mila)
Share on Google Plus

About Asshiddiqiyah Media Center

Pondok Pesantren Asshiddiqiyah didirikan pada Bulan Rabiul Awal 1406 H ( Bulan Juli 1985 M ) oleh DR. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ. Dalam kapasitasnya sebagai lembaga Pendidikan, Keagamaan, dan Kemasyarakatan, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah senantiasa eksis dan tetap pada komitmennya sebagai benteng perjuangan syiar Islam. Kini dalam usianya yang lebih dari seperempat abad, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah telah membuka 12 Pesantren yang tersebar di beberapa daerah di pulau Jawa dan Sumatra.