Gojlokan, Melatih Mental dan Daya Kritis Santri



AMC - Pesantren, sebagai salah satu instansi yang sakral dengan berbagai kegiatan religius yang cukup menyibukan para penghuninya telah banyak mengkader orang-orang hebat. Kemerdekaan bangsa Indonesia pun tidak lepas dari peran penting para santri, bahkan santri pun mampu menoreh sejarah di kursi presiden sebagai orang nomor satu di Indonesia, siapa lagi kalau bukan Gus Dur.

   Tapi ada yang lebih unik lagi bagi instansi yang sudah banyak berkontribusi bagi negara dan agama ini. Di samping sekaliber kesibukan kegiatan belajar dan berbagai kegiatan religiusnya, ada banyak kebiasaan unik para santrinya yang tentu tidak lepas dari manfaat bagi dirinya ataupun orang lain.

   Salah satunya adalah gojlokan. Bagi santri hal ini adalah sesuatu yang sudah lumrah bahkan menjadi kenangan paling dirindukan jika suatu saat mereka sudah tidak di pesantren lagi.

   Gojlokan (red. Jawa) adalah kebiasaan santri meledek temannya, dari kadar ledekan tingkat dasar sampai ke stadium yang paling akut, tergantung siapa sasarannya, kalau sasarannya masih sedikit baperan biasanya tidak terlalu parah, tapi jika sasaran sudah kebal ledekan, akan diuji ledekan yang paling akut sekalipun, namun hal itu sebatas guyon belaka. Kalau di  Jakarta dikenal dengan sebutan ceng-cengan.

   Sekilas terkesan remeh atau bahkan kurang baik, tapi justru dari gojlokan itu para santri kelak akan menjadi pribadi yang tangguh kritis dan bermental baja, loh kok bisa?

   Ada dua tipe santri yang biasa di-gojloki. Pertama adalah mereka yang kebal baper tapi tidak pandai membalas gojlokan temannya, biasanya mereka hanya mengandalkan  kesabaran yang dimilikinya, santri yang seperti ini biasanya memilki kesabaran yang super.

   Kedua adalah tipe santri yang pandai menepis gojlokan  temannya dengan argumen-argumen yang dimilikinya. Nah, tipe yang kedua ini biasanya santri yang pemikirannya kritis, bahkan tak jarang ia menumbangkan teman yang telah menggojloknya hingga tak berkutip.

   Dari dua tipe di atas, semuanya memiliki kelebihan, dan semakin ia sering digojlok, semakin terlatih dan tangguh kesabaran atau daya kritisnya.

   Nah, dari kebiasaan guyon seperti inilah yang akan menjadi salah satu bekal berharga ketika terjun di masyarakat kelak. Banyak para tokoh-tokoh besar yang berlatar belakang santri, mereka cukup tangguh dalam menghadapi hujatan, cemoohan, bahkan fitnah sekalipun. Namun semua itu terasa biasa saja berkat kebiasaan gojlokan dengan teman-teman satu pesantren dulu.

(Penulis: Muhammad Abror, santri Asshiddiqiyah Pusat Jakarta)
source: http://www.santridroid.com/2018/10/gojlokan-melatih-mental-dan-daya-kritis.html?m=1
Share on Google Plus

About Asshiddiqiyah Media Center

Pondok Pesantren Asshiddiqiyah didirikan pada Bulan Rabiul Awal 1406 H ( Bulan Juli 1985 M ) oleh DR. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ. Dalam kapasitasnya sebagai lembaga Pendidikan, Keagamaan, dan Kemasyarakatan, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah senantiasa eksis dan tetap pada komitmennya sebagai benteng perjuangan syiar Islam. Kini dalam usianya yang lebih dari seperempat abad, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah telah membuka 12 Pesantren yang tersebar di beberapa daerah di pulau Jawa dan Sumatra.