Cinta Pada Rasul dan Ajarkan Syariat Islam Sedari Dini, Mana yang Lebih Utama?


Disarikan dari tausiyah Al Habib Ali Zainal Abidin Al Kaff
Oleh: Maulida Husna

Rasulullah saw bersabda: “Ada tiga hal, barang siapa melaksanakan ketiga-tiganya maka ia akan merasakan kelezatan iman: Orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi cinta kepada yang lain, orang yang mencintai orang lain hanya karena Allah dan orang yang benci untuk kembali kekafiran sebagaimana benci untuk masuk ke dalam neraka.“ (HR. Bukhari).

Rasa cinta pada Rasulullah saw benar adanya untuk dibangun sedini mungkin. Alih-alih mengajarkan anak mengenai tata cara shalat, ada baiknya mengajarkan sejarah Nabi Muhammad saw sedari kecil, seperti dengan lagu-lagu anak tentang sejarah kelahiran Nabi saw yang mulia. Dari pengetahuan si anak pada sejarah Nabi, anak dapat menyadari sendiri mengapa ada syariat Islam yang dibawa Nabi dengan segala hikmahnya. 

Al Habib Ali Zainal Abidin al Kaff mengatakan bahwa mengenal Rasulullah saw wajib diketahui lebih dini oleh anak-anak daripada mereka diajarkan tentang tata cara shalat. Pendapat lain mengatakan ma'rifatullah (mengenal Allah swt) lebih utama diketahui lebih dulu daripada ilmu lain. Namun menurutnya, dengan tegas ia jelaskan bahwa karena Rasulullah-lah nikmat kehidupan manusia menjadi lengkap dan manusia mengerti Islam dan syariat-syariatnya. Karena manusia telah mengenal Islam, maka tak aneh jika mereka memuji Rasulullah saw dengan begitu agungnya. 

Allah swt pun memuji Rasul, sebab saking indahnya penciptaannya dan begitu mulianya Rasulullah saw sebagai makhluk yang paling dicintai-Nya. Dikisahkan Sahabat Abbas ra, paman Nabi pun sungkan melangkahi kemuliaan Rasul. Ketika ia ditanya tentang siapa yang lebih besar, apakah Rasul ataukah Sahabat Abbas ra. Maka dengan tegas Abbas menjawab bahwa Rasul lebih besar darinya, walaupun ia lahir dua tahun lebih dulu sebelum Rasul. Dalam riwayat lain, disebutkan ada sekitar 300 sahabat yang menulis syair untuk dibacakan dihadapan Rasul, sebagai bukti kecintaan mereka padanya. 

Perintah shalawat kepada Nabi saw turun langsung dari ayat al-Qur'an, tambahan shalawat pada keluarga Nabi berdasarkan hadits, sedangkan untuk sahabat merupakan analogi atau qiyas. Shalawat manakah yang lebih utama dibaca? Shalawat yang paling utama ialah shalawat yang pernah dibaca oleh Rasulullah saw. Melihat kenyataan penyakit pada hati masing-masing orang berbeda-beda, maka untuk menyembuhkannya pun dengan kecocokan. Adakalanya penyakit hati yang bisa disembuhkan dengan istighfar, shalawat atau dzikir yang lain. 

Cinta kepada Rasul bisa dimulai dengan mengenalnya. Bagaimana kiatnya? Sedari dini, baik diajarkan pada anak-anak tentang sejarah Rasulullah saw. Dengan mengenalnya, timbullah rasa cinta dan sebab cinta niscaya akan ittiba' (mengikuti dan meneladani Rasul saw). Sungguh, beruntunglah bagi mereka yang cinta pada Rasulullah saw dengan sebenar-benarnya cinta. Diantara keutamaan yang diraihnya yaitu sesuai hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari.

Dari Anas bin Malik ra bahwasanya “Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi SAW tentang hari kiamat, “Kapankah kiamat datang?” Nabi pun saw menjawab, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Orang itu menjawab, “Wahai Rasulullah, aku belum mempersiapkan shalat dan puasa yang banyak, hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya” Maka Rasulullah SAW pun bersabda, “Seseorang (di hari kiamat) akan bersama orang yang dicintainya, dan engkau akan bersama yang engkau cintai.” Anas pun berkata, “Kami tidak lebih bahagia daripada mendengarkan sabda Nabi saw, ‘Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.’” Anas kembali berkata, “Aku mencintai Nabi saw, Abu Bakar dan Umar, maka aku berharap akan bisa bersama mereka (di hari kiamat), dengan cintaku ini kepada mereka, meskipun aku sendiri belum (bisa) beramal sebanyak amalan mereka.” (HR. Bukhari).
Share on Google Plus

About Asshiddiqiyah Media Center

Pondok Pesantren Asshiddiqiyah didirikan pada Bulan Rabiul Awal 1406 H ( Bulan Juli 1985 M ) oleh DR. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ. Dalam kapasitasnya sebagai lembaga Pendidikan, Keagamaan, dan Kemasyarakatan, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah senantiasa eksis dan tetap pada komitmennya sebagai benteng perjuangan syiar Islam. Kini dalam usianya yang lebih dari seperempat abad, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah telah membuka 12 Pesantren yang tersebar di beberapa daerah di pulau Jawa dan Sumatra.