Tumpukan Debu



Kami berbicara kepadamu, dalam keheningan jiwa,
yang kini terbaring nan lenyap oleh masa,
yang terbungkam oleh apatis zaman,
yang terkubur bumi pertiwi.

Masa muda kami telah dirampas,
dirampas mereka yang berkuasa.

Ingatkah kalian?
Setiap detik yang membuat nafas terengah-engah,
setiap detik yang membuat jantung bergemuruh,
setiap detik membuat tidur menjadi impian.

Ingatkah kalian?
Ketika bunyi ledakan raga-raga kami,
sambaran peluru yang mencabik kulit kami,
siratan senjata yang memutus harapan kami.
nyawa telah menjadi barang langka.

Ingatkah kalian?
Ketika wanita kami telah menjadi janda,
anak gadis kami di perkosa,
anak-anak kami mereka jadikan yatim.

Salahkah kami, memperjuangkan bangsa ini?
Setelah mayat bergeletakan,
hanya untuk melihat Sang Saka berkibar.
Setelah itu kalian melupakannya.

Bangunlah, Nak.
Jangan sia-siakan yang telah kami perjuangkan.
Kemerdekan kami kini menjadi milikmu.
Kau yang tentukan nasib tulang yang berserakan itu.
Kau yang mewujudkan harapan tumpukan debu itu.

Engkaulah kemerdekaan dan harapan kami kini,
Melihat negeri tetap berdiri tegak.
Yang tak akan hancur karena benalu.
Buatlah masa depan negara selalu tersenyum dihadapanmu.
(M. Iqbal)
Share on Google Plus

About Rumadie El-Borneo

Pondok Pesantren Asshiddiqiyah didirikan pada Bulan Rabiul Awal 1406 H ( Bulan Juli 1985 M ) oleh DR. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ. Dalam kapasitasnya sebagai lembaga Pendidikan, Keagamaan, dan Kemasyarakatan, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah senantiasa eksis dan tetap pada komitmennya sebagai benteng perjuangan syiar Islam. Kini dalam usianya yang lebih dari seperempat abad, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah telah membuka 12 Pesantren yang tersebar di beberapa daerah di pulau Jawa dan Sumatra.