Tugas Santri Menjaga Perisai Indonesia, Pancasila


AIC(JKT) - Memperingati HUT NKRI ke-73, Asshiddiqiyah Jakarta menggelar upacara pengibaran bendera pagi ini, Jum'at (17/08). Upacara kali ini dilangsungkan di lapangan masjid Baitul Makmur dengan dipimpin oleh Ustadz Syukri Ghozali sebagai inspektur upacara.
Dalam amanatnya, Ustadz Syukri menuturkan tentang bagaimana perjuangan Indonesia dalam meraih kemerdekaan.
"350 tahun Indonesia dijajah oleh negara asing.
Kehidupan rakyat Indonesia sengsara dan menderita. Banyak ibu-ibu menjadi janda, gadis-gadis diperkosa, anak kecil yang spontan menjadi yatim karena ditinggal mati ayahnya yang pergi berjuang menjungjung kemerdekaan. Pertempuran yang tidak seimbang karena negara penjajah menggunakan alat tempur yang canggih dan modern, sedang Indonesia hanya memiliki kepalan tangan dan bambu runcing. Namun berkat kekuasaan Allah swt, Indonesia dapat meraih kemerdekaan," ujarnya disambut sorak sorai dan tepuk tangan para santri.
Lanjutnya dengan tegas dan bersemangat, "Tugas kita adalah menjaga kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh pejuang bangsa. Para pendahulu kita telah mewariskan perisai bagi bangsa ini, yakni Pancasila. Pancasila tidak hanya dibaca ketika upacara, tapi dilaksanakan dalam kehidupan. Jika kita mengamalkan isi dari pancasila tersebut, insya Allah Indonesia akan menjadi negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Sekali merdeka, Indonesia tetap merdeka!" (H5)
Share on Google Plus

About Rumadie El-Borneo

Pondok Pesantren Asshiddiqiyah didirikan pada Bulan Rabiul Awal 1406 H ( Bulan Juli 1985 M ) oleh DR. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ. Dalam kapasitasnya sebagai lembaga Pendidikan, Keagamaan, dan Kemasyarakatan, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah senantiasa eksis dan tetap pada komitmennya sebagai benteng perjuangan syiar Islam. Kini dalam usianya yang lebih dari seperempat abad, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah telah membuka 12 Pesantren yang tersebar di beberapa daerah di pulau Jawa dan Sumatra.