Kisah Kiai Noer Nyantri kepada Kiai Muslih Futuhiyyah


AMC - Seiring jutaan doa yang dipanjatkan untuk Ayahanda KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ yang telah berpulang, banyak pula kisah tentang beliau diungkapkan oleh para sahabat, teman, serta para alumni. Salah satunya kisah saat beliau ngaji kilatan di Pesantren Futuhiyyah Mranggen, Demak, Jawa Tengah.

Diberitakan kembali dari NU Online Jateng, alumni Futuhiyyah berduka tak berkesudahan karena baru saja ditinggal pengasuh almamaternya, KH Muhammad Hanif Muslih beberapa hari lalu bertambah panjang dengan meninggalnya KH Nur Muhammad Iskandar SQ yang juga alumnus Pesantren Futuhiyyah.

 

Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah Muhammad Sochib menceritakan kepada NU Online Jateng tentang almarhum Kiai Nur Muhammad pernah ngaji kilatan di Futuhiyyah sebanyak tiga kali saat Kiai Muslih membaca kitab Muhadzab, Shahih Bukhari, dan Shahih Muslim.

 

"Pada saat mendampingi santri-santri As-Shiddiqiyah Jakarta yang diasuhnya, Kiai Noer bersilaturahim ke Futuhiyyah beliau mengatakan, dari ngaji kilatan tiga kitab itu saya mendapat berkah yang besar dari Mbah Muslih," kata Sochib yang juga alumnus Futuhiyyah menirukan ungkapan kiai Nur Muhammad Iskandar, Ahad (13/12).

 

Disampaikan, di antara berkah itu sebagaimana diungkapkan almarhum adalah keberadaan Pesantren As-Shiddiqiyah Kedoya dan beberapa cabangnya yang sangat dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. 

 

"Karena itulah jalinan silaturrahim As-Shiddiqiyah Jakarta dengan Futuhiyyah Mranggen diupayakan dengan sekuat tenaga jangan sampai putus," ujarnya.

 

Dijelaskan, beberapa kali almarhum Kiai Nur Muhammad mengajak santrinya untuk bersilaturrahim ke Futuhiyyah begitu juga sebaliknya. 

 

Dikatakan, berkah besar lainnya yang diperoleh almarhum saat mondok untuk ngaji kilatan di Futuhiyyah adalah ketika jidatnya kena sodok tongkatnya Mbah Muslih hingga berdarah dan bekas lukanya membekas. 

 

"Tentu saja Kiai Muslih tidak sengaja menyodok jidat santrinya itu. Bahkan  secara diam-diam sambil mondok almarhum Nur Muhammad ingin mengetahui rahasia kiai Muslih dalam mengatur waktu, rasanya ada yang aneh dan luar biasa, sepanjang hari, pagi hingga larut menjelang dini hari, pukul 24.00 Kiai Muslih ngaji tanpa putus, kemudian pukul 03.00. sudah berada di masjid  untuk persiapan shalat shubuh dan membangunkan santri.

 

Pertanyaannya, kapan waktu istirahat untuk tidur?, maka Nur Muhammad sengaja mencari tahu kapan Kiai Muslih bangun dari tidur malam. Caranya, Kiai Nur tidur di pintu masjid pondok yang biasa dilewati Kiai Muslih untuk mengimami shalat subuh berjamaah bersama santri. Harapannya supaya terbangun dari tidur ketika kiai Muslih lewat untuk subuhan.

 

Setelah selesai ngaji, Nur Muhammad tidur di pintu masjid, suasana sepi dan gelap, lampu dimatikan. Saat menikmati mimpi indah terbangun karena terasa ada benda tumpul (kayu) tiba-tiba menyodok jidatnya hingga terluka dan berdarah. Ternyata benda tumpul itu tongkat Kiai Muslih yang dijadikan panduan untuk  berjalan di tengah kegelapan.

 

"Kiai Muslih baru tahu kalau tongkatnya menyodok jidat santri ketika Nur Muhammad mengaduh, saat itu waktu baru menunjukkan pukul setengah satu lebih sedikit. Sambil menahan rasa sakit Nur Muhammad meminta maaf karena menghalangi jalan kiainya," kata Sochib.

 

Pagi harinya lanjutnya, Nur Muhammad dipanggil Kiai Muslih, rasa takut menghantui hatinya, karena telah lancang ingin tahu bangun tidurnya kiai yang dikagumi dan mengganggu perjalanan kiai saat akan masuk masjid . 

 

"Di luar dugaan, Kiai Muslih tidak marah, tetapi dengan nada lembut menyampaikan kepada Nur Muhammad untuk segera pulang dan bersiap membangun pondok untuk membimbing msyarakat," ucapnya.

 

Di kemudian hari, Kiai Nur Muhammad mencatat sejarah yang fenomenal dan monumental, yakni mendirikan pesantren besar di Kota Metropolitan, ibukota negara Jakarta yakni pesantren As-Shiddiqiyah.

 

"Selain berhasil membangun pesantren, almarhum Kiai Nur Muhammad Iskandar juga menjadi mubaligh kondang dan kiai besar. Itu semua diakui karena berkah dari gurunya, termasuk sodokan tongkat Kiai Muslih di jidatnya," pungkas Sochib.



Penulis: Samsul Huda
Editor: M Ngisom Al-Barony


Share on Google Plus

About Asshiddiqiyah Media Center

Pondok Pesantren Asshiddiqiyah didirikan pada Bulan Rabiul Awal 1406 H ( Bulan Juli 1985 M ) oleh DR. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ. Dalam kapasitasnya sebagai lembaga Pendidikan, Keagamaan, dan Kemasyarakatan, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah senantiasa eksis dan tetap pada komitmennya sebagai benteng perjuangan syiar Islam. Kini dalam usianya yang lebih dari seperempat abad, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah telah membuka 12 Pesantren yang tersebar di beberapa daerah di pulau Jawa dan Sumatra.

0 komentar :