Bantu Asshiddiqiyah Sama dengan Bantu Lirboyo


Kiai Idris Marzuki Lirboyo, "Kamu bantu Asshiddiqiyah sama dengan bantu Lirboyo. Pokoknya siapa saja yang membantu Asshiddiqiyah itu sama saja membantu Lirboyo. Siapa saja yg menyakiti Asshiddiqiyah sama saja menyakiti Lirboyo" 

Testimoni KH. Mujib Qulyubi dalam acara Do'a dan Tahlil Malam ke-2 untuk almarhum walmaghfurlah Ayahanda Dr. KH. Noer Muhammad Iskandar SQ, Senin (14/12/2020).

AMC - Guru kita KH. Noer Muhammad Iskandar adalah tokoh panutan yang tentu harus kita ambil pelajarannya bagi kita semua. Pergulatan KH. Mujib Qulyubi dibimbing Kiai Noer di Asshiddiqiyah selama 15 tahun, mulai ditunjuk menjadi guru namun pulang pergi karena masih kuliah di PTIQ.

Latar belakangnya yaitu ada 2 indikator, yaitu sama-sama alumni Lirboyo. Di Asshiddiqiyah sebagai guru, kemudian diangkat menjadi walikelas dan lama-lama diangkat menjadi kepala sekolah MTs Manbaul Ulum Asshiddiqiyah. Lalu, diangkat lagi menjadi kepala sekolah MA Manbaul Ulum, hingga menjadi lurah pondok.



Dari interaksi yang pernah dialami oleh KH. Mujib Qulyubi mengenai KH. Noer Muhammad Iskandar, yaitu:

1. Diakui oleh gurunya yaitu Kiai Mahrus Ali dan Kiai Idris Marzuki Lirboyo sebagai anaknya. Yakni. masih satu garis keturunan dari Kediri. Ketika Kiai Noer hendak berangkat ke Jakarta dan masuk PTIQ beliau mendo'akan khusus, bahkan air ludahnya Kiai Mahrus Ali disentuh dan diberikan kepada Kiai Noer.

Setelah di Jakarta, Kiai Noer mendapat petunjuk dari Kiai Mahrus Ali untuk membuat pondok pesantren di Jakarta, maka jadilah Asshiddiqiyah ini. Awal mulanya pendirian pondok ini, Kiai Mahrus Ali bolak balik mengunjungi Asshiddiqiyah. Kemudian beliau menghentakkan kakinya sambil mengucap, "Pokoknya pondok ini barokah, Jawa Madura Indonesia."

Sedangkan Kiai Idris Marzuki, KH. Mujib yang soan ke beliau saat hendak izin untuk menikah, beliau berpesan, "Nanti setelah menikah, kamu teruskan ngabdi ke Asshiddiqiyah bantu Gus Nur Muhammad. Kamu bantu Asshiddiqiyah sama dengan bantu Lirboyo. Pokoknya siapa saja yang membantu Asshiddiqiyah itu sama saja membantu Lirboyo. Siapa saja yg menyakiti Asshiddiqiyah sama saja menyakiti Lirboyo". Bagi orang-orang Salafiyah, diakui gurunya itu merupakan ridho yang paling mulia.

2. Memuliakan tamu 
Kiai Noer selalu memuliakan tamu yang datang ke Asshiddiqiyah, beliau akan menjamu tamunya baik dari kalangan biasa maupun pejabat dan politikus. Semua tamu akan disediakan makanan dan dipersilahkan makan. Ini merupakan tradisi para ulama bahkan di zaman nabi juga dilaksanakan. Tidak hanya harta yang diberikan tapi ilmu dan Ijazahnya. 

3. Istiqomah 

-Istiqomah Puasa Daud
Beliau selalu mendawamkan bagi dirinya dan mewajibkan santri-santrinya puasa Daud. Meski beliau sakit parah, beliau masih tetap puasa. Saat ditanya mengapa tetap puasa Daud padahal sedang sakit? beliau menjawab "Aku kalau tidak puasa akan sakit". 

-Istiqomah jika bertemu alumni atau anak didiknya, beliau selalu menganjurkan untuk mengembangkan khusus di pendidikan. 

Terbukti dengan adanya Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 12 cabang di seluruh Indonesia. Saat beliau ditanya, mengapa tidak mendirikan sekolah biasa?, beliau menjawab " kalau sekolah umum itu adaالتعليم و التدريس tapi tidak ada التربية (pendidikan rohani). Oleh karena itu, para santri Asshiddiqiyah baik yang nakal atau yang tidak akan beliau kirimkan Al-Fatihah dan  dido'akan. 

- Istiqomah Sholat Malam (Tahajjud)
Beliau selalu istiqomah melakukan tahajjud. Padahal beliau keliling ceramah dibeberapa tempat dan hanya tidur beberapa menit saja, beliau tetap istiqomah sholat tahajjud. 

4. Etos kerja yang tinggi tanpa gengsi
Sejak menjadi mahasiswa PTIQ, beliau berdakwah untuk pesantren. Saat itu, ekonominya belum membaik beliau tidak malu berjualan solar di depan Masjid Pluit, padahal beliau dipanggil Ustadz. 

5. Jaringan yang luas
Semua lapisan mengenal KH. Noer Muhammad Iskandar, tidak hanya pejabat tapi masyarakat biasa, politikus, penguasa bahkan pengusaha mengenal beliau. Sehingga banyak kiriman do'a dari mana-mana. 

(Mila)
Share on Google Plus

About Asshiddiqiyah Media Center

Pondok Pesantren Asshiddiqiyah didirikan pada Bulan Rabiul Awal 1406 H ( Bulan Juli 1985 M ) oleh DR. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ. Dalam kapasitasnya sebagai lembaga Pendidikan, Keagamaan, dan Kemasyarakatan, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah senantiasa eksis dan tetap pada komitmennya sebagai benteng perjuangan syiar Islam. Kini dalam usianya yang lebih dari seperempat abad, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah telah membuka 12 Pesantren yang tersebar di beberapa daerah di pulau Jawa dan Sumatra.

0 komentar :