Singa Podium Era Hindia Belanda; KH. Ahmad Rifa’i Kalisasak


AMC - KH. Ahmad Rifa’I Kalisasak, pelopor Gerakan Rifa’iyah ini lahir di desa Tempuran, Kendal, Jawa Tengah. Ia lahir pada 1786 M dan wafat pada 1786 M. Namun ada data lain yang menyebutkan bahwa ia lahir pada 8 Muharram 1200 H/3 November 1785 dan wafat pada 25 Rabiul Awal 1286 H/11 Juni 1869 M. 

Ayahnya meninggal dunia saat ia masih beumur 6 tahun. Selanjutnya ia diasuh oleh kakak iparnya, Syekh Asy’ari yang memiliki pesantren di Kaliwungu, Kendal. Rifa’i muda berhasil menguasai berbagai keilmuan Islam seperti al-Qur’an , hadits, nahwu, sharaf, mantiq, bayan dan ‘arudh. 
Dengan keilmuan yang dimiliki, Rifa’i dewasa mulai terjun dakwah ke masyarakat. Ia sangat antipati terhadap budaya Barat yang dipenuhi kepentingan pemerintah Hindia Belanda. Dalam ceramah-ceramahnya ia menyampaikan kritik keras terhadap pemerintah Hindia Belanda. Ia juga terkenal dengan julukan Singa Podium. Hal ini membuatnya menjadi sasaran pemerintah menyingkirkan pengaruhnya dari khalayak ramai.  

Untuk menambah ilmu pengetahuannya, ketika melaksanakan ibadah haji, ia bermukim di Mekkah selama 8 tahun. Ia berguru kepada beberapa ulama besar, seperti Syekh Utsman dan Syekh Al-Faqih Muhammad bin Abd al-Aziz Al-Jaisyi. Disana ia berteman dengan sesama pelajar dari Nusantara, yakni Syekh Nawawi Banten dan Syekh Khalil Bangkalan. Ketiganya berjanji, jika telah selesai mencari ilmu di negeri orang, mereka akan pulang ke tanah air dan berdakwah melalui jalur pendidikan serta mengusir para penjajah Barat.

Dari Mekkah, ia melanjutkan thalab al-ilmi ke Mesir dan menetap disana selama 12 tahun. Disana ia mendalami kitab-kitab fikih Al-Syafi’i. Di antara guru-gurunya ialah Syekh Al-Barawi dan pengarang Syarh Fath al-Qarib, Syekh Ibrahim Al-Bajuri. 

Sepulangnya dari Mesir, kritik-kritiknya terhadap pemerintah Hindia Belanda semakin gencar dan tajam. Hal ini dianggap sebagai gangguan terhadap stabilitas keamanan pemerintah. Ia pun diasingkan ke daerah hutan di desa Kalisasak, Batang, Karesidenan Pekalongan. Daerah tersebut sekarang termasuk dalam kecamatan Limpung, Batang, Jawa Tengah. Bukannya terasing, ia malah membuka pesantren dan madrasah al-Qur’an di daerah tersebut pada tahun 1821 M. Santri-santrinya berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, ia juga aktif menulis terjemah buku-buku karya ulama Timur Tengah dalam bahasa Melayu berhuruf Arab Pegon berbentuk nazham. Ia berhasil menulis puluhan buku yang menjelaskan berbagai ilmu, terutama ilmu fikih, ushul fikih, ushuluddin dan tasawuf. 

Melihat pengaruhnya yang begitu besar, pemerintah Hindia Belanda kemudian mengasingkannya lagi ke Ambon hingga ia wafat disana pada tahun 1859 M. Pesantren Kalisasak dibubarkan secara resmi dan karya-karya dilarang untuk disebarluaskan. Namun para santrinya yang menamakan diri dengan Gerakan Rifa’iyah tetap melanjutkan dakwahnya. Hingga saat ini gerakan tersebut masih terasa di daerah Cirebon, Kendal, Batang, Semarang dan sekitarnya. Namun gerakan tersebut tidak lagi anti pemerintah seperti era Hindia Belanda. 

Disarikan dari buku Intelektualisme Pesantren Seri Kedua karya A. Mujib dkk. (Lail)

____________________

Info Pendaftaran santri baru :
Ustdzh. Faizatul Islamiyah : 085781237226
Ustdzh Robithoh : 081310855949
Follow Us :
Instagram : Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta
Twitter :@asshiddiqiyah01
Fanspage : Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta
You Tube : Asshiddiqiyah Official
Share on Google Plus

About Asshiddiqiyah Media Center

Pondok Pesantren Asshiddiqiyah didirikan pada Bulan Rabiul Awal 1406 H ( Bulan Juli 1985 M ) oleh DR. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ. Dalam kapasitasnya sebagai lembaga Pendidikan, Keagamaan, dan Kemasyarakatan, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah senantiasa eksis dan tetap pada komitmennya sebagai benteng perjuangan syiar Islam. Kini dalam usianya yang lebih dari seperempat abad, Pondok Pesantren Asshiddiqiyah telah membuka 12 Pesantren yang tersebar di beberapa daerah di pulau Jawa dan Sumatra.

0 komentar :